Tari Tradisional Indonesia

35 Tarian Daerah Terbaik Berikut Gambar, Properti & Maknanya

Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa Indonesia memiliki banyak tari tradisional yang masih lestari.

Keunikan tari tradisional di seluruh provinsi di Indonesia adalah sebagai aset daerah yang bernilai tinggi. Bahkan, tarian tradisional itu justru menjadi daya tarik kunjungan wisatawan.

Berikut ini daftar tarian daerah di Indonesia lengkap beserta gambar, asal daerah, properti dan maknanya.

Kekayaan tarian tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai masyarakat Indonesia untuk mempertahankan budaya. Jangan sampai tarian tradisional hilang karena tergerus oleh waktu.

Tarian Daerah di Indonesia dan Asalnya, berikut kami mencoba menulis sejumlah tarian tradisional itu yang dikutif dari sejumlah sumber.

1. Tari Cokek (Betawi, DKI Jakarta)

Tari cokek adalah tarian akulturasi antara budaya Betawi, Cina dan Banten. Suku Betawi yang tinggal di sekitar Jakarta atau ibukota dari Indonesia sejak dulu, sangat mudah untuk berinteraksi dengan suku atau bangsa lain.

Karena itulah, seiring berjalannya waktu, kesenian Betawi pun berkembang dan bercampur padu dengan kesenian lain. Salah satunya tari Cokek ini, nama Cokek berasal dari Bahasa Hokkian “chiou-khek” yang berarti menyanyikan lagu.

Tarian cokek ini biasa dimainkan pada saat ada pertunjukan atau pesta hiburan. Penari Cokek menunjukan kemampuannya sambil menyanyi diiringi oleh alunan musik Gambang Kromong. Gerakan tarian ini layaknya beradu bokong atau banyak yang menggoyangkan pinggul.

2. Tari Remo (Jombang, Jawa Timur)

Tari Remo atau Reyoge Cak Mo berasal dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tarian ini biasa ditampilkan saat penyambutan tamu yang diiringi oleh gamelan. Sejatinya, tarian ini dibawakan oleh penari pria, tapi sebagai usaha pelestarian, penari wanita pun dapat menari tarian Remo.

Tari Remo membutuhkan sisi maskulinitas untuk menjadi lakon penari. Pertunjukan Tari Remo memang ingin menampilkan kisah pangeran yang sedang berjuang dalam sebuah medan pertempuran.

Ciri khas utama dari tarian ini adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Didukung dengan lonceng-lonceng di area pergelangan kaki, sehingga akan berbunyi jika penari melangkah di panggung.

3. Tari Indang (Sumatera Barat)

Tari Indang atau yang terkenal dengan nama Tari Dindin Badindin merupakan kesenian asli Sumatera Barat, lebih tepatnya masyarakat Pariaman. Tarian ini konon merupakan media proses penyebaran Islam oleh Syekh Burhanudin di Sumatera Barat.

Filosofi tarian ini sangat erat dengan budaya Minang dengan Islam. Tarian Indang ditampilkan dengan alunan Shalawat Nabi atau syair yang mengandung nilai ajaran Islam. Biasanya, ditampilkan pada peringatan wafatnya cucu Rasulullah atau tiap tanggal 10 Muharram.

Tarian Dindin Badindin ini dilakukan oleh penari pria dengan jumlah ganjil seperti 7, 9, 11, atau 13 orang. Gerakannya mirip dengan Tari Saman yang berasal dari Aceh, tapi jika Toppers melihat secara seksama, tarian ini memiliki gerakan yang lebih luwes.

4. Tari Legong (Bali)

Tari Legong adalah tarian klasik Bali yang telah ada sejak abad ke-19. Konon, Tari Legong terinspirasi dari mimpi seorang Pangeran yang sedang sakit lalu bertemu dengan dua gadis menari diiringi oleh alunan gamelan.

Tari Legong memiliki gerakan yang cukup kompleks dan terikat dengan tabuhan gamelan. Alat musik yang mengiringi Tari Legong namanya Gamelan Semar Pagulingan. Hingga kini di Bali memiliki berbagai macam Tari Legong, khususnya di Bali Selatan.

Adapun Tari Legong yang cukup populer adalah Legong Lasem (Kraton) yang dimainkan oleh dua orang legong dan seorang condong. Selain ini, ada Tari Legong Jobog, Ledog Bawa, Kuntul, Sudarsana, Smaradahana dan lain-lain.

5. Tari Bungong Jeumpa (Aceh)

Tari yang satu ini kini cukup populer karena lagunya dinyanyikan pada ajang Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang. Tari khas Aceh ini memiliki gerakan cukup simpel dengan dilakukan secara bergantian, duduk dan berdiri.

Sambil menari, para penari juga menyanyikan lagu Bungong Jeumpa yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Lagu dan tarian Bungong Jeumpa melambangkan keindahan dan kesuburan tanah Aceh.

Bungong Jeumpa sejatinya adalah bunga yang memiliki beragam warna. Bagi masyarakat Aceh, bunga ini adalah simbol keindahan. Maka, tak heran apabila Toppers akan sering melihat bunga bungong jeumpa di acara tradisional warga Aceh.

6. Saman (Aceh)

Mari kita mulai dari daerah paling barat di Indonesia, Aceh. Salah satu tarian daerah paling populer di Daerah Istimewa Aceh adalah tari saman. Tidak hanya populer di dalam negeri, tari saman juga dikenal di mancanegara. Tidak jarang, tarian yang biasanya dilakukan orang banyak penari sekaligus ini dipertunjukkan dalam event kebudayaan di luar negeri.

Bahkan, UNESCO, organisasi kelimuan, pendidikan dan kebudayaan yang bernaung di bawah PBB, memasukkan tari saman dalam daftar warisan budaya yang memerlukan perlindungan mendesak dari Badan PBB Urusan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan.

Gerakan tari saman cukup sulit dilakukan karena membutuhkan kecepatan, akurasi dan kekompakan.

Untuk bisa menarikannya, suatu kelompok penari saman bisa berlatih selama berminggu-minggu bahkan berbulan bulan, lho Toppers.

7. Tor Tor (Tapanuli Utara)

Di utara Pulau Sumatra, tepatnya di sekitar Danau Toba, terdapat suku Batak yang memiliki tarian daerah bernama tor tor. Tarian ini biasanya ditarikan oleh orang Batak dalam berbagai ritual penting seperti pesta pernikahan, pesta kematian, syukuran panen hingga upacara penyembuhan orang sakit.

Saat menari Tor Tor, orang Batak biasanya diiringi permainan alat musik Mangondangi yang terdiri dari 9 buah gondang (gendang batak), terompet khas Batak dan suling. Gerakan tari tor tor tidak rumit dan relatif lebih mudah dipelajari karena gerakannya monoton.

Di era sekarang, penari tor tor biasanya memasukkan unsur-unsur tambahan dalam koreografi-nya.

8. Tari Piring (Minangkabau)

Dari Barat Pulau Sumatra, tepatnya di Minangkabau, terdapat tari piring yang punya gerakan indah dan kaya makna. Tari piring merupakan simbolisasi dari pemberian persembahan kepada sang pencipta atas keberhasilan panen.

Namun, di masa sekarang tari piring sudah dipertunjukkan secara bebas dalam berbagai perayaan. Tari piring biasanya ditampilkan oleh 3 hingga 5 penari yang memegang dua hingga tiga piring dalam tangannya dan gelang lonceng kecil yang diikat pada kaki penari.

Tarian luwes dan indah ini biasanya diiringi oleh alunan alat musik tradisional Minangkabau yakni bong dan saluang.

Baca Juga:15 Lagu Daerah Populer dari Seluruh Daerah di Indonesia: Lirik dan Makna

9. Turuk Langgai (Mentawai)

Nama tarian ini memang kurang terkenal dibandingkan nama tarian daerah lainnya yang ada di artikel ini. Namun, seiring semakin terkenalnya Kepulauan mentawai sebagai salah satu surga wisata dan tujuan wisata air kelas internasional, Turuk Langgai lambat laun mulai dikenal secara luas.

Turuk Langgai merupakan tarian khas etnis Mentawai yang terinspirasi dari gerakan hewan seperti burung, ular, ayam hingga monyet.

Turuk Langgai biasanya ditampilkan dengan iringan alat musik tradisional Mentawai yakni gendang kajeuma dan uliat.

10. Tari Sekapur Sirih (Jambi)

Tari Sekapur Sirih adalah tarian penyambut tamu di Provinsi Jambi yang diiringi musik langgam melayu. Seorang seniman bernama Firdaus Chatap menciptakan tarian ini yang diperkenalkan pada tahun 1962.

Tarian Sekapur Sirih biasanya dilakukan sembilan orang penari perempuan dan tiga penari laki-laki. Satu penari laki-laki akan membawa payung, dan dua lainnya berperan sebagai pengawal.

Penari perempuan akan menari layaknya memvisualisasikan gadis berdandan. Ini tercerminkan melalui gerakan awal tarian ini, perempuan berdandan supaya indah lalu mereka akan bertemu tamu. Gerakan inti dan akhir mereka akan menerima tamu dengan suguhan kapur dan sirih.

11. Tari Lilin (Minangkabau)

Selain tari piring, dari Minangkabau juga ada tari lilin. Tarian ini biasanya dilakukan untuk menyambut malam ke-21 di bulan Ramadan. Ketika itu, penari akan berpasangan perempuan dan laki-laki, kemudian mereka menari membawa lilin menyala di atas piring kecil.

Tarian Lilin terinspirasi dari cerita rakyat Minangkabau tentang seorang gadis yang ditinggal oleh tunangannya. Gadis tersebut juga kehilangan cincin pertunangannya, lantas ia mencarinya kemana-mana hingga larut malam menggunakan lilin yang ditaruh di atas piring.

Nah, gerakan gadis tersebut yang membungkuk dan meliuk-liuk seolah menari jadi latar belakang gerakan tarian ini. Para penari akan bergerak secara indah untuk mempertahankan api lilin agar terus menyala.

12. Tari Ronggeng Blantek (Betawi)

Etnis Betawi juga memiliki beragam tarian daerah yang populer sejak zaman kolonial Belanda. Salah satu tarian daerah yang terkenal adalah Ronggeng Blantek.

Tarian yang memiliki tempo cepat dan gerakan enerjik ini awalnya ditampilkan sebagai pembuka teater rakyat Betawi, Topeng Blantek.

Tarian yang ditarikan oleh penari perempuan ini biasanya dipertunjukkan dengan iringan alat musik populer Betawi seperti terompet, trombone, baritone, gendang, gong, simbal, dan tehyan.

13. Tari Jaipong (Karawang)

Di antara tarian daerah yang ada di daftar ini, Jaipong merupakan tarian yang muncul di era yang relatif lebih modern. Tepatnya, Jaipong muncul pada tahun 1976. Tarian yang gerakannya menggabungkan unsur silat, wayang golek dan ketuk tilu ini diciptakan oleh seniman Jawa Barat, H. Suanda dan Gugum Gumbira.

Saat ditarikan, Jaipong biasanya diiringi oleh musik Jaipongan yang terdiri dari gong, kecapi, gendang dan rebab.

Baca Juga:Penjelasan Lengkap Mengenai Sistem Ekskresi Manusia

14. Tari Topeng (Cirebon)

Tari topeng merupakan tarian daerah Cirebon yang sangat populer di semua kalangan, baik kalangan kraton maupun masyarakat jelata. Saking populernya, Sunan Gunung Jati menggunakan tarian ini sebagai media dakwah saat menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

Para penari topeng biasanya mengenakan 5 jenis topeng yang berbeda-beda. Tiap topeng memiliki nama dan wataknya masing masing. Topeng panji, contohnya, menyimbolkan bayi yang masih bersih dari dosa, sedangkan topeng pamindo merupakan kesatria, sementara topeng patih menggambarkan kedewasaan.

15. Tari Bedhaya (Yogyakarta)

Yogyakarta merupakan salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan tarian daerah. Salah satu tarian daerah yang populer adalah tari bedhaya. Tarian yang biasanya ditampilkan oleh penari perempuan ini dulunya dipertunjukkan untuk kalangan keraton saja.

Tarian ini bercerita tentang sosok spiritual yang diyakini sebagai penguasa dunia kebatinan di pantai utara Jawa, Nyi Roro Kidul.

Tari Bedhaya banyak menampilkan gerakan gerakan-gerakan gemulai bertempo lambat. Bedhaya Ketawang dimainkan dengan diiringi perangkat gamelan lengkap.

16. Tari Serimpi (Yogyakarta)

Sama seperti bedhaya, pada awalnya tari serimpi merupakan tari yang haya dipentaskan di keraton saja. Tarian ini konon dipentaskan ketika ada peristiwa penting dalam keraton seperti pergantian pejabat tinggi.

Tari serimpi sendiri banyak jenisnya, Toppers. Contohnya, serimpi genjung, serimpi babul layar, serimpi bondan, serimpi anglir mendung dan serimpi dhempel. Biasanya, tarian ini dimainkan oleh empat penari yang melambangkan api, air, angin dan tanah dan berpakaian layaknya putri keraton.

17. Tari Gambyong (Solo)

Dari Jawa tengah, tepatnya di Kota Solo, terdapat tarian daerah yang sudah dikenal sejak zaman raja-raja Jawa kuno yakni tari gambyong. Pada perkembangannya, tarian ini terus berkembang dengan koreografi yang bermacam-macam. Tarian ini sebenarnya berakar dari tayub, sebuah tarian rakyat yang biasa dimainkan ketika pesta panen.

Namun, pihak kraton membawa tarian ini dan mengembangkannya menjadi tarian yang luwes dan penuh dengan gerakan indah yang sanggup membius mata.

18. Tari Reog (Ponorogo)

Tari reog adalah salah satu tarian daerah asli Ponorogo, Jawa Timur, yang telah mendunia. Tarian tradisional ini dimainkan oleh sejumlah pria yang menggunakan topeng kepala singa bermahkotakan bulu-bulu merak. Berat topeng besar ini bisa mencapai 50 kilogram, lho Toppers.

Tari tradisional ini konon diciptakan oleh Ki Ageng Kutu, seorang abdi raja Majapahit terakhir, Bra Kertabumi. Ki Ageng Kutu yang kemudian memberontak pada rajanya tersebut menggunakan tarian ini sebagai sindiran bagi sang raja yang dianggapnya korup dan berada di bawah pengaruh Cina.

Hal ini diperlihatkan lewat properti singa barong yang merepresentasikan sang raja dan bulu-bulu merak di atas kepalanya yang melambangkan pengaruh Cina.

19. Tari Jaran Kepang (Ponorogo)

Tarian daerah ini merupakan bagian dari tari reog yang sudah kita bahas di atas. Tari jaran kepang merupakan jenis tarian yang tersebar di sejumlah wilayah di pulau Jawa. Ada yang menyebutnya tari kuda lumping atau tari jatilan.

Tarian yang menggunakan anyaman bambu dan kulit binatang yang berbentuk seperti kuda ini menceritakan tentang para prajurit Majapahit yang gagah berani.

Salah satu keunikan dari tarian ini adalah para pemainnya yang bisa mengalami trance (kesurupan) dan melakukan tindakan berbahaya seperti memakan potongan kaca atau mengupas kelapa menggunakan gigi.

20. Tari Kecak (Bali)

Selain reog, tari kecak merupakan salah satu tarian daerah di Indonesia yang banyak dikenal oleh orang asing. Maklum, tarian ini sangat sering dipertunjukkan baik di Bali maupun di luar negeri.

Tari kecak sendiri diciptakan oleh penari Bali, Wayan Limbak dan pelukis asal Jerman, Walter Spies. Tarian yang biasanya dimainkan oleh belasan bahkan puluhan laki-laki ini diambil dari tarian ritual penolak bala bernama tari sanghyang.

Tarian yang dimainkan tanpa alat musik ini bercerita tentang pasukan kera yang membantu Rama melan raja jin yang jahat, Rahwana.

21. Tari Pendet (Bali)

Salah satu tarian tertua di Bali ini dikenal sebagai tarian penyambutan bagi tamu atau turis yang datang ke sebuah tempat wisata. Namun, tari ini sebenarnya merupakan tarian ritual yang awalnya hanya dipentaskan di pura.

Tari yang bisa juga dipentaskan secara beramai-ramai ini merupakan bagian dari ritual penyambutan turunnya dewata ke bumi. Biasanya penari pendet mengenakan kemben dan kain berwarna keemasan sambil memegang bokor, tempat menaruh bunga yang nantinya akan ditaburkan.

22. Tari Kancet Ledo/Tari Gong (Kutai Kertanegara)

Tarian asal Kalimantan Timur ini dikenal akan keindahan gerak tarinya dan keunikan busana serta kelengkapan tari yang dikenakan penari. Dalam versi aslinya, para penari perempuan yang menggunakan pakaian adat Dayak Kenyah ini harus menari di atas gong. Itulah alasannya jika tarian ini juga disebut sebagai tari gong.

Selain memiliki makna keseimbangan dalam hidup, tarian ini sendiri memiliki menyimbolkan karakter wanita dayang yang cantik, pandai dan indah untuk dipandang.

23. Tari Tempurung (Sulawesi Utara)

Tari tradisional dari Sulawesi Utara ini menggunakan atribut tempurung atau batok kelapa yang biasa digunakan warga sebagai wadah tertentu atau mangkuk. Suara dari tempurung yang saling dipukul akan membunyikan suara khas yang nyaring.

Tarian ini mempunyai makna sebagai ungkapan rasa syukur serta apresiasi terhadap keluarga petani atas hasil panen kopra atau buah kelapa.

24. Tari Kipas Pakarena (Sulawesi Selatan)

Tari Kipas Pakarena berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Setiap gerakan dari tarian mencerminkan karakter perempuan Gowa yang patuh, sopan, dan hormat terhadap laki-laki, khususnya terhadap suami.

Terdapat aturan unik pada tarian ini. Para penari tidak diperbolehkan membuka matanya terlalu lebar, sementara gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Tarian ini biasanya berlangsung selama sekitar dua jam.

25. Tari Paduppa Bosara (Sulawesi Selatan)

Tari Padduppa Bosara adalah tarian penyambutan orang bugis-makassar. Tarian ini menggunakan properti berupa Bosara yang biasa digunakan unutk menghidangkan makanan jika kedatangan tamu.

Pada zaman dahulu kesenian tradisional ini sering ditarikan untuk menjamu raja, menyambut tamu agung, pesta adat, dan pesta perkawinan.

Bosara sendiri merupakan tempat sajian kue tradisional atau lauk yang biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khususnya acara yang bersifat tradisional dan kebudayaan.

26. Tari Gandrung Lombok (Nusa Tenggara Barat)

Tari Gandrung merupakan kesenian tari tradisional asal Lombok yang ditarikan oleh penari wanita yang diiringi dengan seperangkat gamelan. Tarian ini biasanya juga ditampilkan dengan puisi dan nyanyian.

Meski namanya serupa, tari gandrung asal Lombok berbeda dengan yang ada Jawa maupun Bali. Perbedaan yang sangat menonjol dapat ditemukan baik pada gerakan, kostum maupun penyajian pertunjukannya.

Awalnya, tarian ini digunakan untuk menghibur para prajurit setelah pulang dari medan perang. Dengan iringan dari beberapa perangkat Gamelan yang ada, para penari wanita menari sambil mengajak satu persatu para prajurit untuk menari secara berpasangan.

27. Tari Caci (Nusa Tenggara Timur)

Tari Caci atau adalah tari perang antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai. Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng).

Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen, ritual tahun baru, upacara pembukaan lahan, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.

28. Tari Lego Lego (Nusa Tenggara Timur)

Tari Lego-Lego berasal dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Tarian ini ditujukan untuk mengajak masyarakatnya bersatu membangun kampung dan negeri dan biasa ditampilkan pada saat upacara adat.

Tarian ini biasanya dilakukan oleh anak-anak muda. Para perempuan dan lelaki setempat yang terlibat dalam tarian ini mengenakan kain tradisional. Sementara, bagian bernyanyi dan berpantun biasanya dilakukan oleh orang-orang tua.

29. Tari Tide Tide (Maluku Utara)

Tari Tide Tide adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Halmahera Utara, Maluku Utara. Tarian ini biasanya ditarikan secara berpasangan oleh pria dan wanita pada acara-acara tertentu seperti pesta adat, penyambutan, pernikahan, dan lainnya.

Tide Tide merupakan tarian yang memberikan gambaran tentang kehidupan pergaulan antara pria dan wanita di Halmahera pada masa itu. Dalam pertunjukannya, para penari akan diiringi dengan alunan musik dari tifa, biola, dan gong.

30. Tari Saureka Reka (Maluku)

Tarian Saureka Reka dimainkan oleh muda mudi yang terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan. Pada mulanya, tarian ini dimainkan hanya pada saat musim panen sagu yang merupakan ungkapan rasa syukur rakyat namun pada saat ini tarian Saureka Reka sudah banyak dimainkan pada pertunjukkan-pertunjukkan.

Properti yang digunakan untuk tarian ini adalah gaba-gaba, tifa, dan totobuang. Gaba-gaba hanya dimainkan oleh laki-laki sementara perempuan menari menghindari gaba-gaba. Sedangkan tifa dan totobuang digunakan sebagai musik pengiring tarian.

31. Tari Awaijale Rilejale (Papua)

Tari Awaijale Rilejale berasal dari daerah Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Tarian ini dilakukan oleh sekelompok pria dan wanita. Dalam menampilkan tarian, para penari menggunakan pakaian adat Papua bernama Pea Malo.

Pakaian ini terbuat dari serat pohon genemo, kulit kayu, dan daun sagu. Tidak lupa, dilengkapi perhiasan hamboni atau kalung manik-manik yang menambah kesan etnik pada tarian.

Tarian ini menggambarkan tentang keindahan alam danau Sentani di waktu senja, yang menceritakan bahwa para warga pulang dari bekerja dengan menaiki perahu.

32. Tari Selamat Datang (Papua Timur)

Tari Selamat Datang dari Papua Timur ini merupakan bentuk ungkapan rasa hormat dan juga ungkapan rasa syukur serta kebahagiaan masyarakat Papua dalam menyambut para tamu. Tarian Selamat Datang dilakukan secara beramai-ramai.

Umumnya dilakukan oleh wanita. Para penari membentuk sebuah lingkaran dan menari serta bernyanyi secara bersahutan. Penari wanita menjemput para tamu dan memakaikan sebuah penutup kepala dan kalung untuk bentuk penghormatan.

Para pria biasanya baru akan bergabung menari ketika tarian sudah setengah perjalanan. Mereka ikut berputar dengan sesekali mengangkat tombak, panah, dan senjata-senjata lain kebanggaan mereka.

33. Tari Sajojo (Papua)

Tari Sajojo merupakan tarian tradisional yang berasal dari Papua. Tarian ini sering dipentaskan di berbagai acara, baik acara adat, budaya, maupun sekedar untuk hiburan.

Kesenian tari ini tidak diketahui secara pasti asal usulnya. Menurut beberapa sumber, tarian ini sudah mulai ada sejak tahun 1990-an.

Nama tari Sajojo diambil dari judul lagu yang mengiringinya yaitu Sajojo. Lagu “Sajojo” merupakan lagu daerah dari Papua yang menceritakan tentang sebuah kisah perempuan cantik dari desa.

Kostum tarian ini hampir sama dengan kostum tarian tradisional Papua lainnya. Kostumnya biasanya merupakan busana tradisional yang terbuat dari akar atau daun.

34. Tari Yospan (Papua)

Tarian yang satu ini berasal dari Papua dan merupakan salah satu tarian yang paling dikenal di Indonesia. Pada tahun 1980-an, tarian ini mulai dikenal secara umum di tanah Papua. Tari Yospan memiliki kepanjangan Yosim Pancar. Tari Yosim Pancar masing-masing memiliki sejarah dari jenis tarian tersebut.

Berdasarkan sejarahnya, Tari Yosim berasal dari 2 daerah, yaitu Sarmi dan Biak. Tari Yosim yang berasal dari Sarmi merupakan jenis tari yang bersifat sukacita biasa ditampilkan oleh masyarakat pada berbagai kegiatan bahagia.

Kemudian, Tari Pancar, berasal dari Biak. Tari Pancar tercipta karena adanya akulturasi antara budaya asli Biak dengan budaya dari luar Biak. Tari Pancar diiringi dengan alat musik Tifa. Tari Yospan merupakan tarian pergaulan yang menggambarkan bentuk persahabatan pada masyarakat di Papua. Penarinya berupa pria dan wanita.

Para pria menggunakan celana pendek, dada terbuka, dan kepala yang dihiasi bulu-bulu burung. Sedangkan, para wanita menggunakan sarung tenun yang menutup dada, juga kepala yang dihiasi dengan bunga dan bulu-bulu burung.

35. Tari Ranup Lampuan (Aceh)

Tari Ranup Lampuan merupakan tarian tradisional yang berasal dari Aceh, yang dalam bahasa Aceh berarti sirih dalam puan. Sementara itu, puan adalah tempat sirih khas Aceh. Acara koreografi Tarian Ranup Lampuan menceritakan bagaimana masyarakat Aceh menyambut tamu dengan menyuguhkan sirih sebagai tanda terima mereka.

Gerakan Tari Ranup Lampuan berupa gerakan salam sembah, memetik sirih lalu membuang tangkainya, membersihkan sirih, menyapuklan kapur, lalu memberi gambir dan pinang, sampai menyuguhkan sirih pada yang datang. Bisanya, tarian ini dilakukan untuk penyambutan tamu terhormat yang dibawakan oleh penari wanita. (Dari sejumlah Sumber)

"Selamat Datang di ASRI24.com , Berita Terkini, Fakta, Referensi"

Scroll to Top