Buya Syeikh Muhammad Hadi Mufthi Indragiri

Asri24.com – Riau – Seperti sebahagian ulama di Indonesia, Buya Syeikh H Muhammad Hadi adalah salah satu tokoh agama Islam, ulama yang terkenal santun dan ramah.

Dengan memiliki keilmuan yang tinggi tentang berbagai bidang ilmu, fiqih, hadist, tasawuf dan hapal Alquran justru membuat ulama yang kerap disapa “Angku Angin” sangat rendah hati, ramah.

Dirinya mengajar tanpa pamrih, ikhlas bahkan banyak yang belajar justru gratis dan bahkan dibantu, sehingga menjadi sosok yang tauladan dan panutan serta dirindukan masyarakat.

Ulama yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau ini memiliki perjalanan panjang dalam belajar agama. Dirinya sebelum pulang ke Sungai Alah, Lubuk Jambi, Kuansing, Riau belajar dengan puluhan ulama besar di beberapa negara, khususnya Makkah dan Madinah.

Buya Syeikh H Muhammad Hadi puluhan tahun bermukim di Makkah Madinah, hingga dirinya fasih berbahasa Arab dan sangat fasih membaca berbagai kitab gundul, kitap kuning.

Sembari belajar menuntut ilmu di Kota Suci Makkah, juga menjadi rujukan dan tujuan banyak ulama Indonesia, Khususnya dari Riau, Indragiri jika pergi ke Mekkah baik belajar agama maupun menunaikan ibadah haji.

Hingga Buya Syeikh H Muhamad Hadi menerima penghargaan dan piagam menjadi MUFTHI Kerajaan INDRAGIRI di Mekkah Madinah.

Tidak hanya itu, Buya Syeikh H Muhamamd Hadi datang ke Kota Makkah dengan membawa istri dan bermukim lama di negara tersebut.

Hingga akhirnya, mendapatkan, dikarunia seseorang anak perempuan bernama Dra Hj Fatimah Hadi dan sempat sekolah di Makkah.

Lama bermukim di Mekkah, Buya Syeikh H Muhammad Hadi menyekolahkan Fatimah Hadi sekolah agama di Mekkah.

Setelah Istri Buya Syeikh H Muhammad Hadi meninggal di tanah suci (Makkah), selanjutnya ulama ini memboyong anak perempuannya (Dra Hj Fatimah Hadi ) pulang ke Riau yakni Kampung Halaman Lubuk Jambi, Kuantan Singingi.

 

Menariknya, ratusan buku agama baik berbahasa Arab maupun Melayu dibawa ke Riau, hingga saat ini masih terawat baik dan dijaga oleh anak cucunya.

Di desa kecil inilah, Buya Syeikh H Muhammad Hadi mendedikasikan dirinya dengan mengajar ratusan dan bahkan ribuan masyarakat tentang agama Islam.

Selain berdakwah, mengajar Buya Syeikh H Muhamad Hadi juga berkebun dan berhasil membangun surau tinggi.

Di kota kecil ini, Buya Syeikh Muhamad Hadi menghembuskan napas terakhirnya. Sedangkan bercerita tentang karomah ulama ini, sangat banyak sekali, salah satu yang terkenal adalah dalam kisah sejarah  batu Angku Angin.

Buya Syeikh H Muhammad Hadi justru lebih banyak diam, tawadhu, mengajar ikhlas namunramah baik hati.

Beruntung Kehidupan Buya Syeikh H Muhammad Hadi, anaknya Dra Hj Fatimah Hadi menjadi salah satu pahlawan Riau – Kuansing karena prestasi dan jasanya.

Sedangkan, Dra Hj Fatimah Hadi mendapatkan seorang suami bernama Buya Syeikh Ma’rifat Mardjani yang menjadi Tokoh Pahlawan Riau, Tokoh Pendiri Riau 1957.

Buya Syeikh Ma’rifat Mardjani adalah anggota Parlemen RI 1955. Berhasil duduk di Parlemen RI hasil Pemilu Pertama tahun 1955 dari PERTI.

Buya Syeikh Ma’rifat Mardjani adalah berjuang sangat gigih untuk mendirikan Riau lepas dari Sumatra Tengah (Jambi – Riau – Padang).

Masa tuanya Buya Syeikh Ma’rifat Mardjani mengisi pengajian, mengajar dan berdakwah serta menjadi ulama yang banyak menolong orang lain. Hingga Buya Syeikh Ma’rifat Mardjani menghembuskan napas terakhirnya.

Saat ini di makamkan di Sungai Alah, Kuantan Singingi, Riau lebih kurang 160 km dari Provinsi Riau dan 25 km dari Kota Teluk Kuantan menuju Perbatasan Riau – Sumatra Barat.

"Selamat Datang di ASRI24.com , Berita Terkini, Fakta, Referensi"

Scroll to Top